Catatan Sayap Putih Skizofreinia
(2)
Ku mencoba kumpulkan kembali kepingan catatan yang telah berkerak
Dengan bentuk tak lagi pantas di sebut bentuk
Yang berserakan seperti tanda bercak titik hujan diatas pasir
Yang bertaburan seperti anai ketika panen tiba
Ketika anai adalah kupasan kulit padi terbuang tiada guna
Dan terbang lalu merebah diatas kubangan lumpur
Diatas tanah sang tuan yang senantiasa disebut otak
Ingin kurangkum dengan rapi bak tatanan bunga di astana megah nan indah
Berbaris sejajar dengan pesona sang mawar, melati atau dahlia
Dan ku letakkan pada dinding jiwa layaknya bingkai lukisan monalisa yang berlapis emas
Yang tak seorangpun kan menolak jika memang iya, bahkan malaikat
Ku lesakkan dalam jiwa nan suci, ku jaga dan ku sirami selalu dengan bening embun penuh kasih
Penuh warna suka ria seperti imaji dalam cerita dongeng anak - anak
Bukan lagi cerita tapi memang taman surga yang tercipta di sini dan senantiasa disebut hati
Yogyakarta,03 Juni 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar