Senin, 28 November 2011

Titipkan Setitik Rindu


Di beningnya embun pagi kutitipkan setitik rindu
Yang setiap tetesnya senantiasa menggelayut lewat senyumanmu
Menjadi melati nan rekah di heningnya lamunan
Kau mewangi disepanjang diam bayangmu kudekap

Sementara silir angin sibuk merabai hijau rindang dedaunan
Terangkum syahdunya kicau burung liar bersahutan    
Menggema dibalik bait-bait rindu menjelma puisi   
Sekedar melanjutkan percakapan kita yang sempat terhenti



                                                                                                        Yogyakarta, 12 November 2011
Dan semoga menjadi sebuah cerita abadi lukisan Isis dan Aprodite



                                                                                               
 

Gadis (puisi) Imaji


Pada kedua bola matamu kujaring rembulan
Begitu bulat dan lembut bias sinarannya
Yang berbinar mesra kala kita saling tatap
Seperti pengantin anyar, tersipu malu kau lemparkan segurat senyum
Senyum kupu-kupu yang mengembang di bibir tipismu
Yang mengalir di beningnya  sungai pesona dari hulu hati ku  
Menghanyut ku akan suasana, pun detik sekejap membeku

Wahai gadis mawar, semerbak kau tawarkan silir-silir harum mu
Wewangian yang terbawa desir angin mengangkasa bermain rasa
Dikala itu kumbang manapun telah siap mengecup putik sucimu
Namun kau titipkan putik ini bahkan kelopak dan kembang untuk ku yang kau pilih sebagai tempat berlabuh
Pelabuhan di teluk rindu, putik, kelopak dan kembang bermuara di sunyi mimpi 
Dari mata rembulanmu ku merajut bait-bait imaji menjadi puisi
Dan semoga menjadi sebuah cerita abadi lukisan Isis dan Aprodite


                                                                                                Yogyakarta, 08 November 2011
 

Kenangan


: untuk sahabat

Beberapa jam yang lalu mentari kian membujur ke barat
Isyarat bahwa rupa hari kan berganti
Senja mengunduh malam, langit lengang tanpa rembulan
Bintang berkelip-kelip, angin bersilir-silir menyemai sunyi
Dalam kesendirian ku menuai sepi, dingin malam meremas-remas
Menyematkan kehampaan dalam diri seperti berlupa
Berlupa akan hari yang siap menjadi tapak tilas berikutnya
Kemudian berlalu...
Ingatanku berbalik meneropong ke suatu masa
Ketika hari-hari yang lampau penuh guratan senyum
Menjadi gelak canda yang tercipta setiap detiknya
Menjadi tawa riang yang selalu memekakan telinga
Menjadi lukisan pada kanvas kenangan
Menjadi kerinduan kala kesendirian mencekam
Dan bersaf-saf menjadi rangkaian sebuah cerita
Dalam nyata...
Kuhadirkan kenangan kalian menjadi puisi
Yang kan membasuhi ingatan kala rindu datang 

Yogyakarta, 03 Juli 2011

Catatan Sayap Putih Skizofreinia

(9)

Aku kembali di senja yang sama
Manakala hujan baru saja reda
Air menggenang pada jalan yang berlubang

Pada jejak kerinduan yang membidang
Melebar dan begitu jauh tuk ku kenang

Setelahnya....
Daun dan rerumputan hadirkan khas bebauan
Yang di ujungnya menetes air mencumbu pelan

Membingkai bayang masa lalu anak kehidupan
Yang turun dari langit menjelma hujan bagaikan cermin
Berkaca wajah-wajah dari masa silam


  
                    Yogyakarta, 10 November 2011

Catatan Sayap Putih Skizofreinia

(8)

: untuk Rohimah Peni Adawiyah 
(Ku penuhi tantangan mu)

Kau meminta ku membariskan ramai kata
Apapun yang hikmat menjadi sebuah cerita
Tak perduli akan tiap gores tinta hilang makna
Mewarnai setiap baitnya bak langit senja 
Lihatlah..
Runcing penaku menari mengangkasa
Meninggi menyanding awan jauhi perihal dusta
Menjadikannya nyata bukan tanpa sengaja
Segurat senyum hadir tanda usai membaca
Semoga..

Yogyakarta, 19 Oktober 2011 

Catatan Sayap Putih Skizofreinia

(7)

Musim kian mengering,
Pada dedaunan cokelat yang terbaring itu
Ramai lisan mengiba hujan agar segera singgahi bumi walau sekejap,
Senantiasa teriring doa dan mantra melaju seiring
Mengecup dinding harapan

Yogyakarta, 07 oktober 2011

Catatan Sayap Putih Skizofreinia

(6)

Malam kini begitu lengang
Tak seperti malam kemarin
Jerit sumbang mesin-mesin seakan tengah tertidur pulas
Hilang deru memekakan telinga

Pun dengan sayup suara mu cah ayu
Begitu senyap, lepas di perbatasan kota
Sebuah ruangan tempat kita bermain pandang
Kini beribu jengkal tak mampu lagi ku tatap

Namun tidak dengan bintang malam ini
Wajahmu seakan hadir disela-selanya
Dan kulihat tersenyum manis
Tepat di singgasana sang rembulan

Sebentar lagi langit kan berubah warna
Merah merona mengganti pesona
Namun tidak dengan senyummu
Nan rekat menghias tepian hati

Cangkringan, 02 Agustus 2011

Catatan Sayap Putih Skizofreinia

(5)

Aku berdiri diatas hamparan kisah pilu
Yang mengabu kemudian membatu
Menjadikannya sebuah prasasti bisu
Tertanam kenangan penuh haru


Cangkringan, 28 juli 2011

Catatan Sayap Putih Skizofreinia

(4)

Ku merindukan kumpulan aksara
Rindu merangkai potongan abjad menjadi sebuah kata
Adalah setiap kata yang tersemat menjadi sebuah kalimat
Kalimat maklumat menjelma sebaris nasihat
Yang bermakna penuh isi, maka sebutlah ini puisi

(kepada penyair muda di tepian garis imaji)


Yogyakarta, 14 Juli 2011